Seni Mengelola Perbedaan dalam Islam: Membaca QS Al-An’am 151–153 dan Pemikiran Ibnu ‘Asyur Tentang Perbedaan
Rp 87.000
“Apakah perbedaan harus selalu berujung pada permusuhan?” Media sosial saat ini semakin bising. Umat Islam seolah sedang mengidap penyakit “autoimun peradaban”. Kita mudah tersulut emosi dan dengan gampang menyesatkan saudara seagama hanya karena perbedaan pandangan. Pandangan apapun. Tafsir, fikih, hingga bahkan pandangan mengenai pilihan politik. Kita sibuk menyerang organ tubuh kita sendiri dan melupakan dasar dari persatuan yang sesungguhnya.
Description
“Apakah perbedaan harus selalu berujung pada permusuhan?” Media sosial saat ini semakin bising. Umat Islam seolah sedang mengidap penyakit “autoimun peradaban”. Kita mudah tersulut emosi dan dengan gampang menyesatkan saudara seagama hanya karena perbedaan pandangan. Pandangan apapun. Tafsir, fikih, hingga bahkan pandangan mengenai pilihan politik. Kita sibuk menyerang organ tubuh kita sendiri dan melupakan dasar dari persatuan yang sesungguhnya.
Buku Seni Mengelola Perbedaan dalam Islam sengaja disusun untuk menggiring kita masuk ke dalam “Ruang Gawat Darurat” untuk menyelamatkan harmoni umat. Memadukan kecerdasan analogi medis sehari-hari dengan kedalaman mahakarya Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir rumusan ulama besar Imam Ibnu ‘Asyur, Penulis meracik sebuah resep penyembuhan bernama Fiqh al-Ikhtilaf (Seni Berbeda Pendapat). Buku ini tidak akan menuntut untuk menyeragamkan isi kepala semua orang. Sebuah kemustahilan yang menabrak kodrat Ilahi.
Buku ini mengajak kita menyelami:
- Kearifan Sejarah: Bagaimana para Nabi dan Sahabat berdebat dengan argumen tajam tanpa sedikit pun menggores jubah persaudaraan.
- Anatomi Syariat: Seni mengenali mana wilayah agama (Muhkamat) yang tak bisa ditawar dan mana wilayah cabang (Mutasyabihat) yang menuntut toleransi.
- Etika Mengkritik: SOP dari langit tentang cara mengkritik dengan “pisau bedah” kasih sayang; membedah argumen tanpa harus membunuh karakter seseorang.
Ditulis dengan gaya bahasa populer yang renyah, buku ini menjadi sebuah pelukan hangat bagi siapa saja yang merindukan kewarasan dalam sebuah perbedaan. Satu pengingat abadi bahwa taman peradaban Islam itu terlihat indah justru karena warna bunganya yang beragam. Kita tidak harus sama untuk saling menyayangi. Dan kita tidak perlu seragam untuk bisa bersatu.



















